Showing posts with label saxaphone. Show all posts
Showing posts with label saxaphone. Show all posts

Thursday, October 12, 2017

Sepasang Mata Yang Ku Curi (1 & 2)

Pic by James Sutton


Aku jatuh cinta dengan engkau yang pandai melihat karena mata kau ada empat.

Hari itu kau lihat penjahat yang mangkir. Lihat dia berubah jadi penjilat yang mahir. Lalu opini kau yang berjilid-jilid seperti ensiklopedia mulai kau bacakan. Di sela-selanya terselip omong kosong waktu-waktu ku bisa bernapas. Lalu seperti jemu kalau tak sibuk, mata kau yang ada dua pasang itu mulai melirik ke utara, ke selatan, lalu ke timur dan ke barat. Kau lihat apa lagi, kau cerita apa lagi.

Semakin panjang saja volume buku-buku opinimu. Lagi-lagi ku buatkan kau lemari untuk menaruh bongkahan kertas-kertas itu. Beberapa ku ambil dan ku tumpuk jadi meja. Lalu tahun berikutnya, ku kumpulkan dan ku jadikan tangga. Kini kamar kau dan aku ada di ujungnya seperti kastil di atas bukit. Kau bisa melihat semakin jauh, semakin luas... Dan aku janji ganti tembok dengan buku-buku kau.

Satu malam, saat langit berawan dan bulan tertutup sinarnya, diantara esai bola dan naskah politik kau, aku curi sepasang mata kau. Ku sembunyikan dibalik tumpukan sajak Aan Mansyur. Biar bapak itu yang menjaganya. Mata kau yang kini tinggal dua menatap ke depan ke arahku. Kau bilang kau tak bisa melihat. Lalu ku kecup pelupuk matamu, kiri dan kanan. Mereka tertutup dan terus tertutup saat ku mengecup alismu yang berkerut. Saat bibirmu bergerak, dan satu cerita mulai tertulis, ku kecup bibir kau. Aku tak ingin buku tentangku. Ku kecup bibirmu sampai jemari kau bergetar. Sampai mata kau terbuka dan tajam tatapan kau pada ku.

Diatas buku-buku terbuka dan selimut kata-kata kau akhirnya berhenti membaca. Mulai merasa sampai a-b-c berserakan di lantai, lebih dalam sampai kertas bercoret menjadi bersih, sampai lebur huruf-huruf jadi tanda seru. Aku tak ingin titik dan kau berikan koma. Lalu kita berasteriks sampai tanda pagar melompat-lompat, kurung terbuka dan menutup, dan a pun berkeong. Jilid demi jilid kau janji ganti buku dengan tempat tidur.



***


Lalu apa jadinya dengan mata kau yang sepasang itu. Yang disimpan oleh tangan penuh garis milik penulis puisi tua. Mata itu bergerak, melihat ke utara, ke selatan, lalu ke timur dan ke barat. Lalu ia berhenti, ia berhenti menatap kita. Berdua di atas kasur kapuk yang sederhana, terlindung diantara tumpukan bata dan semen, yang tergoda oleh hangat tubuh kekasihnya.

Mungkin kakek itu akan meminjam mata kau. Dan ia akan menulis sajak-sajak biadab tentang kita, tentang sepasang binatang kepanasan di tengah musim kawin. Puisi itu akan dibacakan di pernikahan kita di mana para undangan akan serempak tersedak duri ikan mas. Ibuku akan pingsan dan Ayah kau akan menggeplak kepala kau. Kakek itu akan tertawa, sampai copot dua bola mata pinjamannya.

Secepat kilat kau dan aku akan berlari keluar. Tertawa kita masuk burung biru yang menerbangkan kita ke kastil kecil diujung bukit bertangga buku, tempat aku mencuri mata kau. Ku kembalikan, pertemukan lagi kedua pasang mata jadi empat. Mereka akan melihat ke utara, ke selatan, lalu ke timur dan ke barat. Bibir kau akan bercerita dan aku takkan mengecupnya. Kembali buku-buku tebal akan bertumpukan. Jilid demi jilid. Jadi lantai, jadi tembok, jadi pigura foto pernikahan kita. Tapi nanti malam, saat langit berawan dan bulan tertutup sinarnya, kau gadaikan buku-buku itu dan ganti jadi tempat tidur.

Wednesday, April 23, 2014

Sax and Scat



"Kalau begini caranya, kapan saya bisa melupakan kamu?" dia berbisik, menyampaikan pesan ke angin dibalik jendela basah mobilnya.

Setiap kali langit jakarta bergemuruh membawa rintikan hujan, Reza hanya bisa mendengus kesal, menjatuhkan bahunya satu centi lebih dekat dengan tanah. Kelipan lampu-lampu jalanan yang tercermin di aspal basah membawanya ke masa itu.

Dulu, hujan dimalam hari adalah waktu-waktu ternyaman baginya. Dengan tenang, lelaki ini akan menyalakan CD jazz favoritnya, sambil menyenandungkan not-not miring buatannya sendiri. Seakan ia pemain saxaphone handal. Wanita cantik disampingnya akan ikut bernyanyi, "babe, it's scat" gumamnya yakin. Cuaca seperti ini membuat mereka terlihat seperti pasangan yang paling harmonis. Saling beradu melodi, saut menyaut irama.

"Keterlaluan kamu, Rez.." keluh wanita itu suatu malam. "Aku sudah menunggumu selama 3 tahun, ternyata mimpi naifmu masih saja kau kejar." Di bawah rona senja, Reza baru saja mengutarakan pikirannya yang selama ini ia pendam. Ia tahu, sudah lama ia menjanjikan pernikahan. Ia berjanji, setidaknya pada dirinya sendiri, bahwa di malam pertama ia mendapatkan tawaran bermain saxaphone di cafe manapun, ia akan melamar Dilla. Tapi, setelah 3 tahun tanpa pembahasan tentang pernikahan, Dilla lelah menunggu.

"Kau urus saja hatimu, Rez. Aku akan mengurus hatiku sendiri." Itu kata-kata terakhirnya. Tanpa pesan sampai jumpa, tanpa tengokan kebelakang. Ia berjalan keluar dari restoran, rambutnya yang panjang berkibas ke kiri dan kekanan. Reza yakin, Dilla tidak menangis malam itu. Mereka dua orang dewasa, telah mengenal pahitnya patah hati. Keputusan ini pun bisa diprediksikan sejak awal hubungan mereka. Siapa yang harus terkejut?

Nyatanya, 3 tahun kemudian, di tengah malam gerimis kota jakarta. Reza terkejut. Ini malam pertamanya bermain saxaphone di sebuah cafe kecil. Seharusnya ia menikmati kesempatan ini. Seharusnya ia bermain saxaphone dengan segenap kuatnya. Seharusnya ia meniupkan melodi-melodi miring yang selama ini hanya dimainkan untuk satu pasang telinga. Seharusnya ia tidak berhenti bermain saat bayangan Dilla muncul lagi di pikirannya.

Mungkin dia lah yang seharusnya Reza perjuangkan. Bukan musiknya, bukan impiannya. Namun kebahagiaan Dilla, hidup bersama Dilla. Ah, kini semuanya tinggal penyesalan. Reza menyalakan mesin mobilnya, dan bersiap keluar dari parkiran.

Tuk tuk tuk.. Ketukan halus terdengar dari jendelanya. "Kamu lupa mengambil bayaranmu.." suara lembut itu teredam lagu rock di radio. Reza menurunkan kaca jendelanya dan meminta wanita itu untuk mengulang kata-katanya. Namun, jari-jari lentik itu hanya menyodorkan sebuah amplop putih kearahnya. Cincin pernikahan di jari manisnya.

"Oh, minggu depan saja.. saya tidak bermain bagus malam ini," kata Reza lugas. Namun wanita itu telah berbalik arah, masuk kembali ke cafenya. Amplop itu tergeletak tenang di pangkuan Reza. Diatasnya tertulis, '3 Tahun' dengan guratan pena yang cukup familiar.

Reza menengok kebelakang. Wanita itu berjalan tegap menuju cafenya, rambut panjangnya berkibas ke kiri dan kekanan. Tangan berhiaskan cicin pernikahan itu mematikan lampu 'open' lalu mengunci pintu dimasuk dibelakangnya.

Mereka pikir, sebuah hubungan bisa berakhir dengan kata-kata, dengan persetujuan dua belah pihak. Tapi siapa yang harus terkejut, saat hati mengingat kembali rasa yang lama ia rindukan?